Masa-Masa Sulit Abigael Pun Berlalu Bagian 2

Akibat Preeklamsia

“Di awal kehamilan, kondisi saya sehat-sehat saja. Hanya mual yang lumayan berat terjadi di usia kandungan 2-3 bulan. Namun semua bisa diatasi, saya pun dapat beraktivitas seperti biasa. Namun masuk usia kandungan 6 bulan, dokter mendeteksi adanya preeklamsia (tekanan darah tinggi). Sekitar Januari 2013, saya kontrol ke dokter kandungan, tekanan darah saya 180/130. Suster sampai mengulangi pemeriksaannya beberapa kali. Hasilnya tetap sama, tekanan darah saya tetap tinggi.

Hasil uji lab menunjukkan protein urine saya +1. Ini tidak baik. Saya pun diberi obat untuk menurunkan tekanan darah dan diminta menjalani istirahat total supaya kandungan saya tetap aman. Dua hari kemudian saya periksa lab lagi, alhamdulillah hasilnya bagus. Masuk Februari 2013, saat ingin dipijat. Untuk keamanan, sebelum pijat tekanan darah saya diperiksa. Ternyata 180/130. Saya pun urung pijat dan langsung pergi ke rumah sakit untuk periksa darah. Protein urine saya ternyata +3. Karena kondisi ini sangat berbahaya buat ibu dan janinnya, saya harus menjalani pengakhiran kehamilan. Masalahnya, usia kandungan baru masuk minggu ke-31. Janin belum saatnya dilahirkan.

Setelah mempertimbangkan sisi baik dan buruknya, akhirnya saya dan suami sepakat untuk dilakukan terminasi. Pada 12 Februari 2012, Muhammad Abigael Adiguna lahir lewat operasi sesar. Kami berdoa semoga semuanya berjalan lancar. Ketika lahir, BB Abigael hanya 1.160 gram dengan panjang badan 38 cm. Padahal normalnya, BB bayi baru lahir minimal 2.500 gram. Dengan ukuran yang sangat kecil, Abigael pun harus dirawat secara intensif di dalam inkubator mengingat kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah.”

Pertumbuhan Bagus

“Alhamdulillah, setelah dua bulan di rumah sakit, BB Abigael sudah mencapai 2.000 gram lebih. Abigael pun diizinkan pulang. Kami sangat senang bisa berkumpul di rumah, tak perlu bolak-balik ke rumah sakit.Yang paling penting, ini tanda Abigael sudah siap hidup di luar rumah sakit yang notabene banyak virus dan bakteri. Kondisi Abigael yang masih rentan dan mudah tertular virus, membuat kami harus menjaga betul kondisi lingkungannya. Sebelum Abigael pulang, kami menyiapkan ruangan yang sangat bersih.

Alhamdulillah, meski lahir BBLR, setelah pulang ke rumah pertumbuhan Abigael normal. Kontrol rutin ke rumah sakit sebulan dua kali terus kami lakukan demi memantau terus perkembangannya. Apa yang disarankan dokter, kami laksanakan. Saya berusaha keras Abigael mendapatkan ASI eksklusif mengingat ASI adalah nutrisi terbaik buat bayi. Ternyata benar, BB-nya kian hari terus bertambah. Bahkan, meski ia lahir prematur, pertumbuhan kemampuannya dapat menyamai bayi-bayi pada umumnya.

Ini juga mungkin berkat Abigael sering kami ajak berenang dan melakukan baby spa. Setelah menjalani masa-masa yang sulit, kini Abigael sudah sehat. BB/TB-nya sudah sangat baik. Saat ini di usianya 12 bulan ia sedang belajar berjalan. Tugas saya berikutnya adalah melakukan berbagai stimulasi supaya aneka kemampuannya berkembang optimal selayaknya anak-anak lain yang lahir normal. “

Mempersiapkan masa kuliah untuk anak sejak dari kecil adalah masalah biaya. Namun disamping itu juga perlu diperhatikan masalah masuk tes universitas. Lembaga pelatihan tes masuk universitas luar negeri yang terbaik bisa memberikan bekal terhadap anak dikemudian hari.