Jumlah Pria Indonesia Perokok Tertinggi Kedua di Dunia

Meskipun sejumlah negara memperlihatkan penurunan rasio, angka prevalensi kebiasaan merokok di Indonesia memperlihatkan kecenderungan meningkat dari 1980 hingga 2012. saat ini diperkirakan sebanyak 52 juta orang merokok, Demikian menurut penelitian terbaru dari institute for Health Metrics and evaluation (IHME) di university of Washington. “Jumlah pria yang merokok di Indonesia sudah meningkat sebanyak 200% sejak 1980, dan prevalensi pria yang merokok di Indonesia tercatat sebagai yang kedua tertinggi di seluruh dunia. ini merupakan fakta menyedihkan yang dapat memberikan dampak negatif pada kondisi kesehatan serta biaya kesehatan di negara kita.

Tapi, tentunya ini juga merupakan fakta bahwa kami akan terus berkomitmen dalam melakukan tindakan nyata mengurangi angka tersebut di Indonesia untuk kepentingan seluruh masyarakat, dan membantu mengurangi angka penyakit yang disebabkan oleh tembakau di seluruh dunia,”ungkap Dr. dr Nafsiah Mboi, SpA(K), Menteri kesehatan Republik Indonesia belum lama ini dalam konferensi pers di Jakarta yang memaparkan temuan hasil penelitian ini. penelitian yang bertajuk ”Smoking Prevalence and Cigarette Consumption in 187 Countries, 1980-2012” diterbitkan pada 8 Januari 2014 di Journal of the American Medical Association dalam edisi khusus yang didedikasikan untuk membahas masalah tembakau.

Indonesia Peringkat kedua Jumlah Perokok

Secara global, prevalensi merokok berdasarkan usia sudah menunjukkan penurunan sebanyak 42% di kalangan wanita dan 25% di kalangan pria, antara 1980 dan 2012. Ada 4 negara yakni, Norwegia, Meksiko, Islandia dan Canada sudah memangkas jumlah angka prevalensi di negaranya hingga 50% sejak 1980. Di Indonesia, prevalensi merokok bervariasi antara pria dan wanita. Di tahun 2012, 57% pria di Indonesia termasuk dalam kategori perokok aktif, dan telah tercatat menjadi kedua tertinggi di dunia. Wanita Indonesia, memperlihatkan prevalensi merokok sebanyak 3,6%.

Angka yang sangat kecil dibandingkan para pria perokok. sementara Cina, Taiwan, Vietnam dan negara-negara lain di Asia Timur dan Asia Tenggara memperlihatkan kecenderungan yang sama, antara kebiasaan merokok pria dan wanita. Menurut angka-angka terbaru dari studi Global Burden of Disease (GBD) yang dikoordinasikan bersama IHME, di Indonesia, penggunaan tembakau menyebabkan hampir 200.000 kematian. Estimasi ini tidak termasuk berbagai penyakit sebagai efek dari perokok pasif. “perubahan dalam prevalensi tembakau berlangsung lambat, memperjelas bahwa hal ini merupakan kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

Tapi kami tahu dari tren global yang terjadi, bahwa kemajuan pesat pun bisa saja terjadi. Jika banyak negara dapat mengulangi kesuksesan yang terjadi di norwegia, Meksiko dan Amerika serikat, kita semua dapat menyaksikan berkurangnya penyakit akibat merokok,” imbuh Emmanuela Gakidou, Professor of Global Health and Director of Education and Training in IHME di kesempatan yang sama.

Maka, menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia untuk mengurangi angka perokok. IHME merupakan organisasi riset global yang independen di university of Washington yang menyediakan berbagai pengukuran dan perbandingan dari berbagai masalah kesehatan paling penting di dunia, serta mengevaluasi berbagai strategi yang digunakan untuk mengemukakan masalah-masalah tersebut.

IHME menyebarkan informasi ini secara luas agar para pengambil keputusan dapat memiliki berbagai bukti yang diperlukan untuk membuat keputusan berdasarkan data tentang bagaimana mengalokasikan berbagai sumber daya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Untuk membuat hidup menjadi lebih sehat simak portal gaya hidup sehat agar mendapatkan pengetahuan mengenai cara hidup yang benar.